Breaking News

Posted by : Hasis Bawean Sabtu, 04 Desember 2010

LAPORAN STUDI KASUS
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Program Pengalaman Lapangan
( PPL )
DI MTS NEGERI KEPANJEN


Oleh:
HASIS
070401090141
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
UNIVERSITAS KANJURUHAN
MALANG



KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan keharibaan Ilahi Robbi, Allah SWT. yang selalu memberikan nikmat kesehatan dan ridlonya sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan Studi Kasus di MTS NEGERI KEPANJEN ini yang merupakan salah satu persyaratan dalam pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan ( PPL) dalam waktu yang telah ditentukan.
Laporan Studi Kasus ini memuat tentang permasalahan – permasalahan yang sedang dihadapi oleh klien yang praktikan temukan selama pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan ( PPL ).
Laporan Studi Kasus ini juga memuat teantang usaha – usaha bantuan yang praktikan berikan kepada klien dengan harapan usaha - usaha ini dapat membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh klien terkait dengan belajar klien
Selesainya Laporan Studi Kasus ini merupakan hasil kerjasama dan bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh Karena itu saya mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada:
1. Bapak. Drs.Khairul Anam, M.Ag, Selaku Kepala Madrasah
2. Bapak/Ibu wakil kepala Madrasah
3. Bapak. Akhmad Bajuri, S.Pd, Selaku Guru Pamong
4. Ibu. Nurul Khotimah, S.Pd, Selaku Konselor Madarasah
5. Ibu Yayuk Widyastuti Heriawati, S.Pd, M.Pd Selaku DPL
6. Teman – teman Mahasiswa PPL
7. Siswa yang sudah bersedia untuk diteliti
Praktikan menyadari bahwa penyusunan Laporan Studi Kasus ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu praktikan mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan dalam kesempatan berikutnya. Akhirnya praktikan mengucapkan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin
Kepanjen, 04 Desember 2010
Praktikan
Hasis
NPM. 070401090141



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Program Pengalaman Lapangan ( PPL ) merupakan kegiatan intrakurukuler yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kanjuruhan Malang. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan dan membentuk serta merancang calon tenaga pendidik yang professional dan kompeten serta menguasai kemampuan keguruan yang utuh melalui praktek secara langsung di sekolah yang sudah ditentukan. Dengan adanya program ini, setelah menyelesaikan pendidikannya calon pendidik diharapkan siap secara mandiri dalam mengemban tugas guru sesuai bidangnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, dalam menyelenggarakan Program Pengalaman Lapangan ( PPL ), praktikan sebagai calon guru tentunya tidak hanya berkewajiban menyampaikan materi pembelajaran, mentransfer pengetahuan tetapi lebih dari pada itu, seorang guru dituntut untuk memahami kondisi peserta didik dalam penerimaan pembelajaran tersebut. Seorang guru juga dituntut untuk menangani peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar dan mencarikan pemecahan sebagai jalan keluarnya. Guru diharapkan peka dan tanggap terhadap masalah yang dihadapi oleh anak didiknya. Karena guru merupakan orang yang terdekat dengan peserta didik, maka disamping berperan sebagai penyampai materi pelajaran, seorang guru diharapkan selalu siap membantu siswa yang mempunyai masalah dengan proses belajarnya. Menurut Prof.Dr. Made Pidarta, pekerjaan mendidik mencakup banyak hal yang terkait dengan segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia mulai dari perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, perasaan, kemauan dan sosial. Sedangkan menurut Mulyono,MA (2008) belajar bukanlah sekedar transmisi ilmu pengetahuan semata sebagai fakta.
Jika hal yang dapat menhambat pembelajaran dibiarkan, maka tentu tujuan proses belajar mengajar tidak akan pernah tercapai. Harapan agar anak mereka menjadi anak yang pandai, mendapatkan nilai yang baik di sekolah menambah kesedihan mereka ketika melihat kenyataan bahwa anak-anak mereka kesulitan dalam belajar.
Akan tetapi yang lebih menyedihkan adalah perlakuan yang diterima pesrta didik yang mengalami kesulitan belajar dari orang tua dan guru yang tidak mengetahui masalah yang sebenarnya, sehingga mereka memberikan cap kepada anak mereka sebagai anak yang bodoh, tolol, ataupun gagal tanpa memahami dan menelusuri latar belakang, sebab akibat kenapa pesrta didik tersebut tersebut mengalami kesulitan dalam belajar.
Menyelenggarkan studi kasus adalah salah satu usaha yang bertujuan untuk memahami siswa sebagai individu dalam penyesuain diri yang baik dan membantu perkembangan klien secara optimal agar dapat membantu dalam membentuk peserta didik yang unggul sesuai amanat UU tentang tujuan pendidikan formal yang tercantum dalam UU RI No. 20 TH 2003, BAB II Pasal 3
“untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, kreatif dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
Melihat pentingnya dalam memahami karakteristik peserta didik, praktikan tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk studi kasus di MTS Negeri Kepanjen untuk mengetahui permasalahan – permasalahan secara menyeluruh dan mendalam yang betul – betul dihadapi oleh siswa serta penanganannya.
Dari data yang diperoleh, praktikan berusaha mengenal dan memahami klien secara menyeluruh baik tentang dirinya sendiri, keluarga maupun dari lingkungan temapt tinggal klien serta mengupayakan perkembangan secara optimal sesuai dengan kondisi klien. Berdasarkan data, klien yang dikenakan dalam studi kasus ini menunjukkan bahwa klien mengalami kesulitan belajar yang ditunjukkkan dengan turun atau rendahnya prestasi yang dicapai dalam mengikuti proses belajar mengajar sehingga dari keadaan ini, klien tersebut perlu mendapatkan bantuan dari praktikan dalam menyelesaikan masalahnya.
B. Pengertian studi kasus
Studi kasus secara luas dapat didefinisikan sebuah usaha dalam mengenal, memahami, dan memantapkan siswa kasus dengan cara mengidentifikasi, mendiagnosis, memprognosis, dam memberikan pemecahan yang dihadapi oleh siswa klien. Berikut ini adalah beberapa pendapat tentang pengertian studi kasus yang praktikan kutib dari buka, makalah laporan studi kasus dan internet.
Studi kasus adalah salah satu metode penelitian dalam ilmu sosial. Dalam riset yang menggunakan metode ini, dilakukan pemeriksaan longitudinal yang mendalam terhadap suatu keadaan atau kejadian yang disebut sebagai kasus dengan menggunakan cara-cara yang sistematis dalam melakukan pengamatan, pengumpulan data, analisis informasi, dan pelaporan hasilnya. Sebagai hasilnya, akan diperoleh pemahaman yang mendalam tentang mengapa sesuatu terjadi dan dapat menjadi dasar bagi riset selanjutnya. Studi kasus dapat digunakan untuk menghasilkan dan menguji hipotesis.
Menurut Bogdan dan Bikien (1982) ( dalam tulisan Erna Febru Aries S di ardhana12.wordpress.com ) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. SementaraYin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, Jacobs, dan Razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting.
Studi kasus adalah suatu tehnik mempelajari seseorang individu secara mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik ( I. Djumhur, 1985 ).
Studi kasus adalah suatu metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang murid secra mendalam dengan tujuan membantu murid untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik ( WS. Winkel, 1995 ).
Studi kasus adalah metode pengumpulan data yang bersifat integratif dan
komprehensif. Integratif artinya menggunakan berbagai tehnik pendekatan dan bersifat komprehensif artinya data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek pribadi individusecara lengkap ( Dewa Ktut Sukardi,1983 ).
Studi kasus merupakan suatu proses yang terus menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimal dalam mengarahkan sehingga memberikan manfaat bagi dirinya dan masyarakat. (Stoops, 1975).
Studi kasus adalah suatu metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang murid secara mendalam dengan tujuan membantu murid untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik (WS. Winkel, 1995).
Studi kasus adalah metode pengumpulan data yang bersifat integrative dan komprehensif. Integrative artinya menggunakan berbagai teknik pendekatan dan bersifat komprehensif yaitu data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek pribadi individu secara lengkap (Dewa Ketut Sukardi, 1983).
Studi kasus merupakan teknik yang paling tepat digunakan dalam pelayanan bimbingan dan konseling karena sifatnya yang komprehensif dan menyeluruh. Studi kasus menggunakan hasil dari bermacam-macam teknik dan alat untuk mengenal siswa sebaik mungkin, merakit dan mengkoordinasikan data yang bermanfaat yang dikumpulkan melalui berbagai alat. Data itu meliputi studi yang hati-hati dan interpretasi data yang berhubungan dan bertalian dengan perkembangan dan problema serta rekomendasi yang tepat.
C. Tujuan studi kasus
Adapun tujuan dari studi kasus ini yaitu :
1. Mengenal kepribadian klien yang dianggap mempunyai masalah
2. Mamahami dan menetapkan faktor-faktor penyebab permasalahan yang dihadapi klien.
3. Agar praktikan bisa memperoleh tambahan pengetahuan dan ketrampilan dalam menangani masalah yang dihadapi oleh klien secara lebih dalam. Dengan demikian diharapkan praktikan kelak menjadi seorang konselor sekolah yang mampu dan terampil melaksanakan tugas sesuai dengan predikatnya sebagai seorang konselor yang profesional
4. Agar praktikan dapat memahami dan meneliti karakteristik dan tingkah laku klien yang memiliki masalah atau hambatan untuk diberikan bantuan atau bimbingan dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapinya agar klien dapat memahami dirinya sendiri, mampu menyelesaikan masalah yang dapat menghambat proses perkembanganya dengan baik, sehingga klien mampu mencapai perkembangan baik fisik maupun psikis secara baik tanpa adanya kendala. Serta dapat mengembangkan dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, dan berprestasi seoptimal mungkin.
D. Manfaat Layanan Bimbingan Siswa
Layanan bimbingan siswa ini sangat bermanfaat sebagai salah satu usaha dalam meningkatkan pencapain hasil belajar baik secara akademik maupun non akademik untuk dijadikan referensi. Manfaat tersebut antara lain :
1. Bagi Klien
a. Klien dapat memahami karakteristik keribadiannya sendiri
b. Klien mendapatkan bantuan dalam penenuan permasalahan dan jalan pemecahannya
c. Klien dapat memperoleh informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
2. Bagi Calon Guru
Pengalaman ini memberikan masukan dan bekal dalam usaha mengatasi masalah yang dialami siswa yang juga merupakan pengalaman praktis untuk menunjang profesionalisme sebagai guru di masa yang akan datang.
3. Bagi Wali Kelas
Layanan bimbingan siswa bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam memahami peserta didik, mengidentifikasi permasalahan – permasalahan dan jalan pemecahan dalam rangka membimbing dan membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar.
4. Bagi Konselor
Laporan bimbingan siswa ini diharapkan untuk bisa dijadikan sebagai solusi alternatif dalam mengetahui sekaligus memahami siswa yang bermasalah dan penyelesaiannya serta pemberian bimbingan atas latar belakang penyebabnya sehingga siswa mampu menjadi insan seutuhnya.
5. Bagi Kepala Sekolah
a. Bahan pertimbangan dalam monitoring keadaan klien dan kemampuan guru, terutama berkaitan dengan studi kasus.
b. Merupakan salah satu sumber informasi tentang siswanya, sehingga dapat digunakan sebagai landasan menentukan kebijaksanaan tentang masalah klien
6. Orang Tua
a. Meningkatkan komunikasi antara orang tua dan sekolah sehingga dapat dihindari kesalahan atau kekeliruan dalam mendidik anak.
b. Memberikan informasi tentang situasi dan kondisi anaknya disekolah pada umumnya, sehingga dengan informasi ini orang tua dapat mengendalikan dan membina anaknnya.
E. Identifikasi kasus
1. Proses Penemuan Kasus
Dalam menyelengarakan studi kasus ini, pengidentifikasian kasusnya dilakukan pencatatan informasi-informasi yang berhubungan dengan jenis kasus yang dihadapi klien yang perlu mendapat bimbingan dengan menggunakan teknik problem cheklist, cheklist kebiasaan belajar. observasi, dan wawancara. Berdasarkan hasil pencatatan didapat informasi bahwa klien sedang menghadapi masalah dalam belajar yang ditunjukan oleh menurunnya prestasi klien. Oleh karena itu praktikan memandang perlu untuk membantu dan menangani klien agar masalah yang dihadapi klien dapat diseselaikan.
2. Identitas klien
a. Identitas klien
1. Nama klien : Alvan ( Fiktif )
2. Tempat/tgl lahir : Malang, 31 – 3- 1996
3. Jenis kelamin : Laki-laki
4. Alamat : Mojosari
5. Agama : Islam
6. Suku : Jawa
7. Sekolah : MTS Negeri Kepanjen
8. Kelas : VIII C
9. Umur : 14 th
10. Jumlah saudara : 4
11. Anak ke : 3
12. Status dalam keluarga : Anak Kandung
13. Kebangsaan : WNI
14. Hobi : Sepak Bola, Badminton, membaca
15. Cita – cita : Pemain Profesional
16. Kendaraan sekolah : Sepeda Pancal
b. Keadaan Jasmani
1. Tinggi badan : 165 cm
2. Berat badan : 53 kg
3. Warna kulit : Sawo matang
2. Warna rambut : Hitam
c. Kondisi Kesehatan
1. Penglihatan : Tidak normal
2. Pembicaraan : Normal
3. Pendengaran : Normal
4. Penyakit yang pernah diderita: Mag lambung
d. Keadaan Keluarga
b. Ayah
1. Nama : Didik ( Fiktif )
2. Pekerjaan : Tukang banguna
3. Pendidikan : SMP
4. Agama : Islam
5. Kebangsaan : WNI
6. Alamat : Wonoayu
b. Ibu
1. Nama : Susi ( fiktif)
2. Pekerjaan : Ibu rumah tangga
3. Pendidikan : SD
4. Agama : Islam
5. Kebangsaan : WNI
6. Alamat : Wonoayu



BAB II
KAJIAN TEORI
A. Gejala Pemilihan Kasus
Berdasarkan informasi yang didapat oleh praktikan dengan melihat hasil identifikasi kasus dapat disimpulkan bahwa klien sedang mengalami kesulitan dalam belajar. Hal ini bisa dibuktikan dari gejala yang dialami oleh klien. Gejala yang dimunculkan adalah sebagai berikut:
1. Klien mengalami penurunan secara drastis dalam prestasi
2. Klien kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran
3. Klien tidak pernah bertanya saat proses pembelajaran berlangsung
4. Klien cenderung hanya berdiam diri.
5. Klien lebih banyak menyendiri
6. Klien kurang bergaul dengan teman-temannya
B. Alasan Pemilihan Kasus
Dilihat dari gejala – gejala yang ada, maka jelas klien mempunyai masalah dalam belajar. Oleh karena itu penting untuk dicarikan solusi. Selain itu , praktikan melihat ada beberapa kemungkina yang akan terjadi apabila klien tidak segera mendapat bantuan dan penanganan secara serius. Kemungkina – kemungkinan tersebut antara lain :
1. Dikwatirkan kesulitan belajarnya akan terus berlangsung
2. Prestasi belajar klien semakin menurun
3. Dikwatirkan untuk tidak naik kelas
C. Ancangan Studi Kasus
Ancangan adalah tahap – tahap sistematis untuk memudahkan dalam pemecahan masalah dan memiliki teknik yang bervariasi sehingga mudah dalam mengenali masalah
Adapun tahap-tahap dalam ancangan ini adalah:
1. Analisis
Analisis adalah pengumpulan informasi mengenai klien yang mencakup segala aspek kehidupan klien. Data tersebut meliputi tentang diri pribadi klien, lingkungan klien, keluarga klien, hubungan sosial klien.
2. Sintesis
Sintesis adalah usaha untuk merangkum, menggolongkan dan menghubungkan data – data yang telah terkumpul dengan tahap analisis. Dengan demikian dapat menunjukkan keseluruhan gambaran tentang diri klien
3. Diagnosis
Diagnosa merupakan kegiatan yang diambil untuk menentukan letak masalah, jenis masalah serta latar belakang masalah yang sedang dihadapi klien.
4. Prognosis
Prognosis adalah langkah yang ditempuh untuk menetapkan jenis atau teknik bantuan yang di berikan kepada klien serta memprediksi kemungkinan yang akan terjadi atau yang sedang dialami klien sehubungan dengan masalah yang sedanng dihadapinya.
5. Treatmen
Pemberian bantuan adalah suatu langkah pelaksanaan bantuan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi klien. Dalam langkah ini hendaknya ditentukan pihak-pihak yang terlibat dalam menangani masalah klien. Pihak-pihak yang perlu diikutsertakan, misalnya: guru, orang tua, saudara, teman-teman, kepala sekolah, guru kelas yang paling dekat dengan klien. Seluruh pihak tersebut hendaknya memberikan partisipasi yang besar dalam memberikan bimbingan.
6. Follow Up
Follow up adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menilai menyeluruh terhadap hasil bimbingan setelah masing-masing pihak yang terlibat melaksanakan kewajibannya. Tindak lanjut atau follow up ini dibutuhkan untuk mengetahui sejauh mana bantuan yang sudah diberikan mampu berpengaruh dengan optimal terhadap diri klien dalam mengatasi permasalahan – permasalahan yang sedang dihadapi



BAB III

PROSEDUR DAN METODE PENYELIDIKAN KASUS
A. Metode Pengumpulan Data
Untuk mengidentifikasi klien yang bermasalah, praktikan menggunakan beberapa metode dalam dalam pengumpulan data, seperti :
1. Daftar Cek Masalah (DCM)
Masalah – masalah yang dihadapi klien:
a. Kesehatan
1. Jantung sering terasa berdebar-debar
2. Keringat dingin keluar bila sedang tidur
3. Merasa terlalu kurus, sehingga mengganggu kesehatan saya
4. Selalu kurang nafsu makan
5. Merasa lelah dan tidak bersemangat
6. Penglihatan saya kurang
7. Di rumah hawa kurang segar
b. Keadaan penghidupan
1. Uang saku saya kurang mencukupi
2. Banyak adik yanng masih menjadi tanggungan orang tua
3. Uang sekolah saya sering tidak terbayar
4. Mengharapkan untk mendapat bea siswa
5. Ikut bersama kakek/nenek yang penghasilannya pas-pasan
c. Rekreasi dan hobi
1. Hobi penelitian saya tidak tersalurkan karena fasilitas/ biaya kurang mendukung
2. Hobi penelitian saya menyita waktu belajar saya
3. Hobi keterampilan saya tidak tersalurkan karena fasilitas/ biaya kurang mendukung
4. Hobi keterampilan saya menyita waktu belajar saya
5. Hobi olahraga saya ( renang, voli, basket, tennis, fittnes/ aerobic dll ) tidak tersalurkan karena dihalangi orang tua
6. Hobi olahraga saya menyita waktu belajar saya
7. Hobi saya membaca tidak tersalurkan karena fasilitas/ biaya kurang mendukung
8. Rekreasi ( nointon TV, bioskop, jalan-jalan, shopping, mejeng, bermain dll ) tidak tersalurkan karena dihalangi orang tua
9. Kegiatan rekreasi saya menyita waktu belajar saya
10. Hobi-hobi saya tidak tersalurkan karena tidak ada waktu
d. Kehidupan sosial kegiatan berorganisasi
1. Sering gagal dalam usaha mencari kawan
2. Sukar bergaul
3. Merasa tidak disenangi oleh kawan-kawan sekolah
4. Sukar menyesuaikan diri
5. Tidak pernah menjadi pemimpin
6. Mudah nerasa malu
e. Hubungan pribadi
1. Tidak bergaul dengan orang yang tingkat sosial ekonominya lebih tinggi
2. Merasa harga diri kurang
3. Saya merasa diri saya tidak sebaik orang lain
4. Saya ingin hidup tenang
f. Muda-mudi dan asmara
1. Saya merasa kesepian karena tidak mempunyai pacar
2. Iri melihat kawan-kawan berpasangan
3. Mermilih pacar sukar bagi saya
4. Luka hati saya menyebabkan sukar untuk mencintai orang lain
5. Dilarang berpacaran boleh orang tua
6. Bergaul dengan teman sejenis lebih menyenangkan dari pada dengan lawan jenis
g. Kehidupan keluarga
1. Ayah dan ibu pulang kerja terlalu petang
2. Di rumah hampir tidak ada waktu untuk diri sendiri, selalu sibuk dengan tugas-tugas dirumah
3. Pertentangan ayah dan ibu di rumah menggangu pikiran saya
4. Orang tua kurang memperhatikan saya
5. Orang tua sering berpergian
6. Di rumah saya merasa kurang senang
7. Ingin mengadakan perubahan terhadap suasana hubungan keluarga
8. Keluarga kami kurang tolong-menolong
h. Agama dan moral
1. Sering berdusta dan tidak jujur
2. Sopan dan santun lahirah lebih berharga bagi saya
3. Saya merasa berdosa sekali
i. Penyesuaian terhadap sekolah
1. Saya ingin pindah kelas lain
2. Peraturan sekolah selalu menekan saya
3. Pribadi seorang guru menyebabkan pelajarannya tidak saya perhatikan
4. Beberapa mata pelajaran saya anggap tidak perlu, sehingga saya malas untuk mempelajarinya.
5. Saya merasa dibenci oleh kawan-kawan saya di sekolah
6. Sering tidak dapat menyelesaikan tugas sekolah
7. Catatan pelajaran tidak lengkap dan tidak teratur
j. Masa depan dan Cita-cita Pemdidikan/Jabatan
1. Kuatir tidak dapat mandiri kelak
2. Bagi saya sulit untuk menetapkan pilihan perguruan tinggi
3. Bagi saya sulit untuk memilih pekerjaan
4. Bagi saya sulit imtuk menentukan pilihan jurusan
5. Kuatir tidak dapat diterima di perguruan tinggi
6. Ingin mengetahui bakat dan kemampuan saya
7. Cita-cita saya tidak disetujui olah orang tua
8. Belum mempunyai cita- cita tertentu
9. Cita-cita selalu goyah
10. Masa depan saya tidak ditentukan oleh usaha saat sekarang
k. Penyesuaian terhadap kurikulum
1. Pelajaran sekolah terlalu sulit bagi saya
2. Sulit mengerti isi buku pelajaran
3. Saya takut terhadap ulangan
4. Saya sering mendapat angka rendah
5. Sering kuatir kalau-kalau mendapat giliran
6. Sering mendapat kesukaran dalam menyelesaikan tugas pewkerjaan rumah
7. Merasa kurang memiliki pengetahuan dasar
8. Sukar menyesuaikan diri dengan suasana belajar di kelas
9. Sering kesulitan untuk memahami soal-soal ulangan
10. Apakah anda biasanya membicarakan kesulitan anda dengan orang lain ?
Jawab: Ya / Tidak
Mengapa? Karena itu kepribadian saya sendiri

2. Cheklist Kebiasaan Belajar
1. Saya mempunyai waktu belajar di rumah
2. Saya belajar setiap hari secara teratur
3. Saya belajar kalau ada ulangan
4. Saya mempunyai daftar waktu untuk belajar
5. Suara bising diluar sering mengganggu belajar saya
6. Saya tidak bisa tidur siang
7. Di rumah saya mempunyai kegiatan olahraga, organisasi atau kegiatan lain selain membantu orang tua.
8. Biasanya bahan-bahan pelajaran yang sulit, saya pelajari lebih dahulu sebelum materi tersebut dijelaskan oleh guru
9. Ada beberapa pelajaran yang sulit yang saya ikuti
10. Uang SPP selalu mengganggu belajar saya
11. Orang tua/wali saya selalu memperhatikan penggunaan waktu belajar saya di rumah
12. Saya belajar karena dorongan dan kebutuhan saya sendiri
13. Saya tidak mengetahui manfaat pelajaran yang saya ikuti
14. Buku-buku pelajaran saya tidak lengkap
15. Catatan saya kurang lengkap
16. Saya sulit memahami buku-buku pelajaran
17. Saya tidak pernah membaca buku-buku di perpustakaan
18. Saya tidak pernah bertanya kepada Bapak/Ibu guru tentang pelajaran
19. Saya kadang-kadang bertanya kepada teman tentang pelajaran
20. Di rumah ada yang membantu saya dalam soal pelajaran
3. Observasi
Observasi merupakan salah satu metode pengumpulan data yang sangat efektif dalam mempelajari suatu objek penelitian tertentu dengan mengamati individu atau kelompok secara langsung. Observasi dibutuhkan untuk mendapatkan data – data yang akurat berdasarkan fakta – fakta yang diamati dilapangan. Observasi membantu memberikan penegasan ataupun penolakan terhadap apa yang telah ditemukan melalui wawancara atau melalui kuisioner. Dengan observasi data – data yang dikumpulakan akan mempunyai tingkat kevalidan yang tinggi karena berangkat dari fakta yang terjadi.
Teknik ini dilakukan dengan cara pengamatan dan pencatatan gejala dan tingkah laku pada diri klien selama mengikuti proses belajar mengajar di kelas dan juga pada saat diluar kelas.
Data yang didapatkan dari hasil obsevasi adalah:
1. Klien sering kelihatan lemas tidak bersemangat dalam mengikuti proses belajar mengajar.
2. Sering terlambat dalam mengerjakan tugas dan terkesan seadanya
3. Klien kelihatan tidak perduli dengan mata pelajaran yang sedang diajarkan
4. Klien sering menangis pada saat didekati
4. Wawancara
Wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan data dengan Cara mewancarai klien baik secara langsung maupun melalui orang-orang yang dekat dengan klien, seperti wali kelas dan teman dekat di kelas. Data yang didapatkan dari hasil wawancara adalah :
1. Klien membenarkan hasil data yang didapat melalui teknik pengumpulan data sebelumnya
2. Klien merasa diasingkan dari keluarganya
3. Klien merasa kurang berguna karena keadaan ekonomi dan kesehatannya
B. Sintesis
Dalam tahap ini dilakukan perangkuman dan menyimpulkan data yang telah diperoleh, diidentifikasi dan dianalisis. Hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang klien.
Dari data yang dikumpulkan dengan mengaitkan seluruh data yang relevan dengan masalah klien maka dapat disimpulkan beberapa hal: bahwa klien adalah berasal dari keluarga yang kurang berkecukupan dan mempunyai masalah dengan kesehatan sehingga menyebabkan klien kurang percaya diri dan sulit bergaul dengan orang lain. Klien sering tidak bersama dengan keluarga karena permasalahan yang terjadi dalam keluarganya antara ayah dan ibunya akibatnya, klien kurang mendapatkan perhatian yang memadai dan belajarnya pun terganggu yang awalnya baik prestasi klien sekarang menjadi menurun sangat drastis. Adanya perbedaan keinginan atara klien dan orang tuanya juga menyebabkan menurunnya prestasi belajar klien.
C. Diagnosis
Pada tahap ini dicari faktor penyebab yang melatar belakangi segala permasalahan yang sedang dihadapi oleh klien. Hal ini dilakukan setelah menganalisi identifikasi kasus pada klien yang didapatkan sebelumnya. Dari hasil analisis identifikasi kasus tersebut, maka dapat diketahui faktor penyebab timbulnya masalah pada klien seperti berikut:
1. Keadaan ekonomi klien belum bisa mendukung belajar klien
2. Keluarga kurang memperhatikan klien
3. Suasana keluarga mengganggu klien
4. Penglihatan klien tidak normal
5. Situasi yang ramai mengganngu belajar klien
6. Klien tidak mengetahui manfaat pelajaran yang dipelajari
7. Klien menganggap ada beberapa pelajaran yang tidak perlu
8. Ada pelajaran yang tidak disenangi oleh klien
9. Buku dan catatan klien kurang lengkap
10. Klien jarang membaca buku
11. Klien tidak pernah pernah bertanya tentang pelajaran pada guru
D. Prognosis
Prognosa adalah langkah yang ditempuh dalam usaha memprediksi hal-hal yang akan terjadi bila klien tidak segara atau tidak diberi bimbingan dan bantuan.
Berdasarkan masalah yang sedang dihadapi oleh klien maka dapat diprediksi beberapa kemungkinan yang dapat terjadi sebagai berikut :
1. Prestasi belajar klien semakin menurun
2. Klien bisa tidak naik kelas
3. Konsentrasi belajar klien tidak optimal
4. Klien akan terus mengalami kesulitan dalam belajar
5. Klien semakin tidak percaya diri karena keadaan ekonomi dan kesehatannya.
Akan tetapi jika kemungkinan - kemungkinan tersebut dapat segera diatasi maka yang akan terjadi adalah sebagai berikut:
1. Prestasi belajar klien akan meningkat
2. Klien bisa naik kelas
3. Konsentrasi belajar klien akan optimal
4. Klien tidak akan mengalami kesulitan dalam belajar
5. Klien semakin akan percaya diri dengan keadaan ekonomi dan kesehatannya.
E. Treatment
Pada tahap ini adalah proses pemberian usaha bantuan kepada klien agar klien dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada, memahami dirinya sendiri sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Pemberian usahan bantuan ini dilaksanakan setelah diketahui masalah klien, faktor-faktor penyebab timbulnya masalah serta kemungkinan jika masalah klien diatasi dan tidak diatasi.
1. Bantuan yang direncanakan
a. Bimbingan dan konseling privat kepada klien
Bimbingan ini diberikan kepada klien secara individu setelah melihat dan memperhatihan faktor penyebab terjadinya masalah yang sedang dihadapi oleh klien sehingga klien mampu mengatasi masalahnya dengan klasifikasi sebagai berikut:
1. Keadaan ekonomi klien tidak mendukung belajar klien
· Memberikan pemahaman kepada klien bahwa mengenai kaya dan miskin merupakan ketentuan tuhan. Klien diminta untuk percaya bahwa apapun yang diberikan tuhan adalah nikamat yang perlu disyukuri. Tuhan memberikan sesuatu pada makhluknya sesuai dengan kemampuannya. Sehingga hal itu tidak perlu dianggap menjadi penghambat belajar klien. Karena banyak juga orang sukses justru berasal dari keluarga yang kurang bahkan tidak mampu.
· Menganjurkan klien unutk tidak minder karena statusnya dan terus bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dimana klien berada
2. Keluarga kurang memperhatikan klien
3. Suasana keluarga mengganggu klien
· Menganjurkan kepada klien untuk tidak terlalu memikirkan hal – hal yang berhubungan dengan keluarganya yang justru dapat menghambat belajar klien. Yang terpenting adalah klien harus terus belajar dengan rajin agar menjadi orang yang bermanfaat
· Menganjurkan klien untuk terus menggali potesi yang ada dalam didirnya agar kelak menjadi orang yang berguna
4. Penglihatan klien tidak normal
· Menganjurkan kepada klien untuk berterus terang kepada orang tua klien bahwa klien sedang mengalami masalah dengan penglihatan dan itu sangat mengganggu belajar klien agar orang tua mau mengupayakan pengobatan sesuai kemampuan.
5. Situasi yang ramai mengganngu belajar klien
· Menganjurkan kepada klien untuk menegur teman – teman yang ramai agar berhenti supaya tidak mengganggu belajar klien
6. Klien tidak mengetahui manfaat pelajaran yang dipelajari
7. Klien menganggap ada beberapa pelajaran yang tidak perlu
8. Ada pelajaran yang tidak disenangi oleh klien
· Membrikan pengertian kepada klien bahwa semua pelajaran itu adalah penting dan mempunyai banyak manfaat. Ilmu itu cahaya yang dapat menerangi kehidupan klien .
· Memotivasi klien agar terus semangat dalam mengikuti peajaran
9. Buku dan catatan klien kurang lengkap
10. Klien jarang membaca buku pelajaran
· Menganjurkan klien untuk selalu mencatat materi pelajaran agar apabila klien lupa bisa melihat kembali materi pelajaran yang sudah klien catat
· Menganjurkan kepada klien untuk mulai rajin membaca buku agar menjadi orang pintar karena dengan membaca klien dapat menemukan banyak ketidaktahuannya sehingga menjadi orang pandai
11. Klien tidak pernah pernah bertanya tentang pelajaran pada guru
· Memberikan dorongan kepada klien untuk tidak selalu diam tetapi harus selale bertanya kepada guru mengenai pelajaran yang tidak dimengerti. Karena dengan bertanya klien akan lebih mudah mengerti
b. Bimbingan belajar
Dengan mendapatkan informasi belajar yang efektif, klien dapat mengetahui bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar dan pendalaman terhadap materi pelajaran di sekolah. Praktikan berusaha menganjurkan klien untuk selalu menggunakan waktu denan baik dengan tanpa mengabaikan pekerjaan – pekerjaan rumah dalam membantu keluarga.
c. Bimbingan sosial
Bimbingan sosial sangat penting bagi klien agar klien dapat berinteraksi dengan lingkungan sosial dimana klien berada. Praktikan selalu menekankan kepada klien agar selalu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar baik di sekolah maupun di tempat tinggal klien.
d. Pemberian motivasi
Menurut Prof. Dr.H. Baharuddin, M.Pd (2009) Motivasi dapat dipandang sebagai suatu istilah umum yang menunjuk pada pengaturan tingkah laku individu ketika kebutuhan dari dalam dan dari luar mendorong individu untuk memuaskan kebutuhan menuju tercapainya tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauan untuk melakukan sesuatu sehingga dapat atau mencapai tujuan.
Praktikan memotivasi klien untuk terus menggali dan mengembangkan potesi dan bakat yang dimiliki.
e. Kunjungan rumah.
Kunjungan rumah dimaksudkan untuk mengetahui keadaan tempat tinggal klien, lingkungan sosialnya serta pengaruhnya terhadap klien. Kunjungan rumah ini juga dimaksudkan agar praktikan bisa bertemu dan berkomunikasi secara langsung dengan orang tua klien untuk melaporkan dan membicarakan hal – hal yang terkait dengan masalah yang sedang dihadapi oleh klien yang kemudian dicarikan solusinya bersama orang tua. Dengan demikian hubungan antara klien dan orang tuanya bisa menjadi lebih baik sehingga tercipta keluarga yang harmonis dan akhirnya belajar klien lebih maksimal
2. Bantuan yang terlaksana
a. Bimbingan dan konseling privat kepada klien
Bimbingan ini diberikan kepada klien secara individu setelah melihat dan memperhatihan faktor penyebab terjadinya masalah yang sedang dihadapi oleh klien sehingga klien mampu mengatasi masalahnya dengan klasifikasi sebagai berikut:
1. Keadaan ekonomi klien tidak mendukung belajar klien
· Memberikan pemahaman kepada klien bahwa mengenai kaya dan miskin merupakan ketentuan tuhan. Klien diminta untuk percaya bahwa apapun yang diberikan tuhan adalah nikamat yang perlu disyukuri. Tuhan memberikan sesuatu pada makhluknya sesuai dengan kemampuannya. Sehingga hal itu tidak perlu dianggap menjadi penghambat belajar klien. Karena banyak juga orang sukses justru berasal dari keluarga yang kurang bahkan tidak mampu.
· Menganjurkan klien unutk tidak minder karena statusnya dan terus bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dimana klien berada
2. Keluarga kurang memperhatikan klien
3. Suasana keluarga mengganggu klien
· Menganjurkan kepada klien untuk tidak terlalu memikirkan hal – hal yang berhubungan dengan keluarganya yang justru dapat menghambat belajar klien. Yang terpenting adalah klien harus terus belajar dengan rajin agar menjadi orang yang bermanfaat
· Menganjurkan klien untuk terus menggali potesi yang ada dalam didirnya agar kelak menjadi orang yang berguna
4. Penglihatan klien tidak normal
· Menganjurkan kepada klien untuk berterus terang kepada orang tua klien bahwa klien sedang mengalami masalah dengan penglihatan dan itu sangat mengganggu belajar klien agar orang tua mau mengupayakan pengobatan sesuai kemampuan.
5. Situasi yang ramai mengganngu belajar klien
· Menganjurkan kepada klien untuk menegur teman – teman yang ramai agar berhenti supaya tidak mengganggu belajar klien
6. Klien tidak mengetahui manfaat pelajaran yang dipelajari
7. Klien menganggap ada beberapa pelajaran yang tidak perlu
8. Ada pelajaran yang tidak disenangi oleh klien
· Membrikan pengertian kepada klien bahwa semua pelajaran itu adalah penting dan mempunyai banyak manfaat. Ilmu itu cahaya yang dapat menerangi kehidupan klien .
· Memotivasi klien agar terus semangat dalam mengikuti peajaran
9. Buku dan catatan klien kurang lengkap
10. Klien jarang membaca buku pelajaran
· Menganjurkan klien untuk selalu mencatat materi pelajaran agar apabila klien lupa bisa melihat kembali materi pelajaran yang sudah klien catat
· Menganjurkan kepada klien untuk mulai rajin membaca buku agar menjadi orang pintar karena dengan membaca klien dapat menemukan banyak ketidaktahuannya sehingga menjadi orang pandai
11. Klien tidak pernah pernah bertanya tentang pelajaran pada guru
· Memberikan dorongan kepada klien untuk tidak selalu diam tetapi harus selale bertanya kepada guru mengenai pelajaran yang tidak dimengerti. Karena dengan bertanya klien akan lebih mudah mengerti
b. Bimbingan belajar
Dengan mendapatkan informasi belajar yang efektif klien dapat mengetahui bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar dan pendalaman terhadap materi pelajaran di sekolah. Praktikan berusaha menganjurkan klien untuk selalu menggunakan waktu denan baik dengan tanpa mengabaikan pekerjaan – pekerjaan rumah dalam membantu keluarga.
c. Bimbingan sosial
Bimbingan sosial sangat penting bagi klien agar klien dapat berinteraksi dengan lingkungan sosial dimana klien berada. Praktikan selalu menekankan kepada klien agar selalu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar baik di sekolah maupun di tempat tinggal klien.
d. Pemberian motivasi
Menurut Prof. Dr.H. Baharuddin, M.Pd (2009) Motivasi dapat dipandang sebagai suatu istilah umum yang menunjuk pada pengaturan tingkah laku individu ketika kebutuhan dari dalam dan dari luar mendorong individu untuk memuaskan kebutuhan menuju tercapainya tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauan untuk melakukan sesuatu sehingga dapat atau mencapai tujuan.
Praktikan memotivasi klien untuk terus menggali dan mengembangkan potesi dan bakat yang dimiliki.
3. Bantuan yang belum terlaksana
Dari beberapa bantuan yang direncanakan diatas terdapat rencana yang belum bisa dilaksanakan karena keterbatasan waktu mengingat pada saat yang bersamaan praktikan masih mempunyai kewajiban terkait dengan perkulihan di kampus. Sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan dan dilaksanakan. Rencana bantuan itu adalah Kunjungan Rumah.
F. Follow Up
Praktikan melakukan usaha tindak lanjut terhadap usaha – sahan bantuan yang telah diberikan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan keefektifannya yang juga dugunakan sebagai barometer atas usaha – usaha tersebut untuk melakukan jenis bantuan lainnya apabila dirasa perlu. Metode yang digunakan adalah :
1. Observasi
Pada observasi ini praktikan mengamati sejumlah perkembangan klien pasca diberi bantuan bimbingan. Setelah mengamati praktikan melihat ada kemajuan yang baik dalam diri klien dimana klien mulai tidak lagi kelihatan minder, lebih semangat belajar dan mencatat materi pelajaran yang disampaikan karena sudah mengetahui manfaat belajar. Disamping itu, klien juga terlihat lebih aktiv pada saat proses belajar mengajar sedang berlangsung yang di tunjukkan olek sikap klien yang mulai sering bertanya tentang materi pelajaran yang dianggapnya kurang dimengerti.
2. Wawancara
Dari hasil wawancara praktikan mendapatkan infomasi bahwa klien sudah mulai mengalami perkembangan dan perubahan yang baik apabila dibandingkan sebelum adanya usaha pemberian bimbingan dari praktikan
3. Anilis nilai
Anilisis nilai dilakukan dengan cara melihat langsung nilai yang diperoleh oleh klien sebelum pemberian bantuan yang kemudian dibandingkan dengan nilai yang diperoleh oleh klien pasca pemberian bantuan. Hasilnya adalah bahwa klien mengalami peningkatan walaupu tidak terlalu signifikan.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa seorang guru harus membantu bukan hanya dalam mengembangkan aspek intelektualitas siswa, tetapi juga mengenai kemampuan siswa dalam mengatasi segala permasalahan yang dihadapi oleh siswa itu sendiri secara mandiri dan permasalahan yang ditemui dalam interaksi dengan lingkunagn sekitar. Guru harus mengetahui lebih dari sekedar masalah bagaimana mengajar efktif ( Prof. Soetjipto. Drs. Raflis Kosasi).
Guru harus memahami siswa agar dapat menbatu pertumbuhan siswa dan perkembangannya secara efektif.(Prof. Dr. Oemar Hamalik)
Sedangkan dari data yang diperoleh tentang klien dapat disimpulkan bahwa klien sedang mengalami masalah yang dapat mengganggu dan menghambat proses dan pencapain belajar klien. Oleh karena itu, praktikan melakukan beberapa tindakan untuk membantu klien dalam mengatasi masalah tersebut dengan mengadakan studi kasus dan bimbingan.
B. Saran
1. Saran untuk orang tua.
Sikap orang tua dalam bentuk perhatian dan motivasi serata pengawasan dan pendampingan belajar akan sangat penting. Karena pendidikan pertama adalah lingkungan keluarga
2. Saran untuk guru.
Diharapkan agar guru tidak hanya mementingkan nilai kognitif semata, tetapi juga aspek – apek lainnya terutama nilai afektif serta pemecahan masalah. Selain itu, hubungan yang harmonis antara guru dan siswa dengan menciptakan hubungan kekeluargaan dan menjadikan siswa sebagai partner belajar yang baik sangat mempengaruhi proses dan pencapaian belajar mengajar.
3. Saran untuk konselor
Konselor agar selalu melakukan studi kasu agar dapat mengetahui lebih mendalam dan menyeluruh tentang siswanya yang sedang mengalami masalah terkait dengan belajarnya agar dengan cepat bisa dicarikan jalan keluarnya sehingga tidak mengganggu belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
· Tim LP3L. 2010. Pedoman Program Pengalaman Lapangan (PPL), Universitas Kanjuruhan malang
· Tim LP3L. 2008. Keterampilan Dasar Mengajar, Universitas Kanjuruhan Malang
· Prof. Dr. Made Pidart, Lndasan Pendidikan ; stimulus ilmu pendidikan bercorak Indonesia/Rineka Cipta, Jakarta, Anggota IKAPI
· Mulyono, MA. 2008. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan, Ar-ruzz Media
· Prof. Dr.H. Baharuddin, M.Pd. 2009. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, Ar-ruzz Media
· Prof. Soetjipto, Drs, Raplis Kosasi,M.Sc. Profesi Keguruan
· Dr.Dimyati, Drs. Mudjiono. Belajar Pembelajaran
· Prof. Dr. Oemar Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar
· Muhibbin Syah, M,Ed. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Hasis Bawean - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -